Dyan Widya Agustina

Tetap menulis, tetap membaca. Dan mulailah bekerja sebagai makhluk abadi....

Selengkapnya
Janji Hati

Janji Hati

Janji Hati

-Dian Garini Lituhayu-

Hawa Yogja yang panas hari ini tak menyurutkan semangatku menapaktilasi perjalanan ibuku berbelas tahun lalu. Menemukan lelaki yang padanya hatinya terikat, yang padanya harapan ibuku tertambat. Ibuku, perempuan tua yang mengasuhku sendirian dalam hidupnya itu jatuh cinta di usianya yang tidak lagi muda, pada seorang lelaki yang ia temui disini, di kota ini. Tentu saja dilakukannya saat dia telah tak bersama lelaki yang semestinya kusebut ayah, yang entah pantas atau tidak, karena meninggalkan ibuku tanpa sepatah kata apapun untuk menikah lagi dengan perempuan berdada besar, sesuai seleranya.

Aku sudah merampungkan tugasku hari ini, tiket pesawat sudah kuatur untuk kembali ke Balikpapan pekan depan. Masih ada beberapa hari longgar untukku menikmati suasana Yogja dan menyempatkan diri mencari hikmah perjalanan mencintai yang diceritakan ibuku, padaku. Di kursi rodanya suatu pagi ibuku sesenggukan menangis. Aku datangi ibuku dan mengelus tangannya. "Kamu kapan pergi ke Yogja nduk?" Pertanyaan itu yang ia ulang berkali-kali pekan itu. "Ibu sudah nda kuat jalan jauh seperti dulu.." Dia menggantung kalimatnya untuk kembali menangis. Aku tahu apa yang selalu dipikirkannya tiga tahun terakhir ini. Cokro. Entah apa lelaki itu hanya lelaki imaginasi ibuku atau dia benar-benar ada. Tapi tak sehari pun ibuku lewati tanpa bercerita tentangnya dan mendadak gembira dengan wajah merona setiap bercerita tentangnya. Paling tidak, itulah yang aku tandai selama seribuan hari belakangan ini. Cokro, Cokro, Cokro.

Berkesempatan mengunjungi kota Gudeg ini membuatku yakin, ada tugas langit lain yang disematkan oleh semesta padaku. Mencari Cokro, dan menyampaikan tumpukan surat ibuku padanya. Terdengar gila memang, tapi ibuku menulis rapi suratnya untuk Cokro seakan dialah satu-satunya yang ibuku kenal dalam hidupnya. Dengan matanya yang mulai rabun dan tangannya yang gemetar, setiap sehabis sholat subuh ibuku menulis. Segelas teh hangat tawar selalu menemaninya. Setiap hari.

Ibuku, pada suatu hari, "Kalau kamu ke Yogja, berikan surat ini pada Cokro ya Nduk, ibu tahu dia salah paham tentang ibu. Ibu tidak mau berlarut-larut lagi.." Aku dan adik-adikku sudah sangat hafal potongan dan detil ceritanya. Aku pernah meminta Yunina dan Wini adik-adikku itu untuk bersabar merawat ibu. Kusampaikan pada mereka, Tuhan di bumi itu adalah ibu. Terlebih bagi kami, yang diasuh dan dinafkahi ibu, sendiri tanpa suami. Di masa tuanya yang lemah dan renta karena penyakit tua, ibuku seperti menyesali sebuah hubungan yang tak sampai ke pelaminan, dengan lelaki yang dipanggilnya, Cokro.

Sesi hari ini sangat padat dan melelahkan, matematika yang awalnya menakutkan bagiku akan kuubah menjadi wajah baru dalam perspektifku sebagai ibu guru. Itu yang membawaku ke Yogja. Aku belajar bersama beberapa belas guru dari penjuru bumi, untuk mengubah paradigma matematika. Asramaku yang nyaman dengan makanan yang melimpah, membuatku bukan cuma betah, tapi juga pipi yang semakin tebal dan renyah. Entah sudah berapa kilogram aku bertambah. Jadwal yang longgar pada malam hari, membuatku berusaha mengaturnya menjadi sebuah pekan panjang, untukku dan untuk ibuku.

"Ini alamat Mas Cokro Nduk, temui dia, cari sampai ketemu, mudah-mudahan, dia sehat dan belum pergi ke surga, tidak, tidak tanpa ibu.." aku ingat pesan itu ketika ibuku sedemikian gelisah melihatku berkemas menuju Yogja. Aku mengangguk dan tersenyum. Apa yang tak akan kulakukan untuk perempuan tua yang bersedia menahan lapar dan hausnya untuk kami ini. Kalau harus kuberikan umurku sebagai pengganti air susunya, akan kulakukan. "Nggih Bu, Hera cari Pak Cokro, sampai ketemu, kalau pun hanya makamnya, Hera pasti cari, untuk ibu.."

Dan demikianlah, hari ini aku memulai perjalananku mencari Pak Cokro. Kucari di alamat yang diberikan ibuku. Menurut ibu, belasan tahun lalu, bertemu dengan Cokro untuk makan mie ayam dan minum jus alpukat kesukaan mereka berdua, sebelum kemudian bertengkar dan berpisah sampai sekarang. Ibuku menolak diantar pulang oleh Cokro, karena waktu itu, Cokro berstatus suami orang. Ibuku tak mau Cokro jadi gunjingan orang, begitu kata ibuku. "Bukankah ibu juga akan jadi gunjingan buruk orang Bu?" tanyaku mengapa ibuku melulu memikirkan posisi dan omongan orang tentang Cokro lebih banyak daripada tentang dirinya sendiri.

"Cokro itu seorang guru Nduk, seorang imam masjid, saat itu, ibu yang miskin papa dan seorang diri ini bertemu dengannya dalam keadaan dia tidak sendiri. Ibu sudah biasa dicap buruk masyarakat sekitar kita Nduk, sudah kebal telinga ibu. Kalau dia, jangan sampai. Niatnya menikahi ibu adalah menafkahi kalian bertiga saat itu, meskipun tahu, ibu ini tidak punya harta apapun, meski mengerti ilmu agama ibu belum baik, meski memahami banyaknya kekurangan ibu sebagai perempuan.." Aku tertegun, bukan karena tak percaya, tapi lebih pada terpesona. Ibuku yang berbelas tahun sendiri, menahan diri untuk tak jatuh hati, kemudian jatuh cinta sebegini klepek-klepek pada Cokro. Menyisakan banyak rasa terkesima.

"Kalau kamu bertemu dengan Cokro, ibu tahu kamu pasti langsung tahu mengapa ibu selalu mendoakannya pagi dan petang dalam doa ibu. Kalau kamu bertemu dia nanti, dan kamu lihat matanya, kamu akan tahu bagaimana semestinya kamu nanti mencari pasangan hidup. Cokro itu penyayang dengan tatap mata yang tulus.." Begitulah setiap saat jika ibuku bercerita tentang Cokro. Matanya dalam kerangka wajahnya yang tirus keriput itu selalu mendadak bercahaya meski terlihat sedih mendalam. Rasa yang dipendamnya jutaan hari. Belasan tahun.

Ini malam kedua aku mencari alamat Cokro. Kuperkirakan alamat ini sudah berganti. Atau Cokro sudah pindah kota. Daerah Sleman Barat sudah habis kukikis. Aku berjanji, aku akan temukan lelaki ini demi ibuku. Malam ini usahaku masih gagal. Aku kembali ke asramaku dan terlibat diskusi dengan teman-temanku untuk agenda besok pagi. Kami harus presentasi untuk persiapan materi ajar tentang geometri. Pelukan kasur dan selimut putih di seprai khas batik mendekapku erat malam ini. Besok aku akan pergi lagi, mencari Cokro. Aku sudah temukan alamat tempat Cokro mengajar dulu. Kata ibuku, semua orang pasti tahu Cokro. Aku sempat tersenyum setiap kali ibuku bercerita tentang Cokro, aku seperti diberi dongeng tentang lelaki pujaan ala Dilan. Mau kukatakan pada Dilan, "Jangan menyimpan cinta saat jatuh hati, berbelas tahun sendiri demi menjaga perasaan sayang tetap abadi Dilan, biar ibuku saja.."

Hari ini kami berwisata ke Borobudur. Ini kali pertama aku mengunjungi tempat luar biasa ini. Benar-benar menggelitik rasa dalam jiwaku yang halus karena tempaan hidup. Sejak adik bungsuku Wini, Winingsih lengkapnya, masih merah dalam dekapan dada ibuku, lelaki yang menjadi pemberi benih pada hidupku pergi meninggalkan ibu. Membuat ibuku mati rasa bertahun-tahun dalam penantian dan kesepian, dengan kerja keras dan pengorbanan. Aku tahu benar tak ada laki-laki yang dijatuh cintai perempuan sekeras ibuku itu selain Cokro. Perjalanan menuju Borobudur dihiasi dan diisi berbagai lagu khas zaman now yang sedang trend dan mengasikkan telinga. Teman-teman seperjalananku ini memang kumpulan orang-orang berbakat. Genre lagu apapun bisa dinyanyikan dengan sempurna. Jadilah, bis yang kutumpangi menuju Magelang, riuh rendah dengan tawa dan ceria. Aku memilih duduk manis dan menikmati alun musik, dengan sekantong besar kripik.

Sebuah pesan masuk ke dalam HP jadulku, "Sedang dimana Nduk, apakah sudah bertemu?" Ini adalah pesan kedua hari ini untukku, dari ibu. Kubalas sederhana pesan ibuku itu, "Hera sedang di jalan Bu, bantu Hera dengan doa ya.." Beberapa teman di Yogyakarta ini kukabari tentang kehadiranku di kota ini. Sesempatnya kutanyai mereka tentang Cokro, aku cuma kuatir nanti heboh beritaku mencari cinta lama ibuku. Ini bagian dari misi hidup yang harus kujalani.

Perjalanan ke candi besar itu memang luar biasa. Betis besarku ini ikut berlatih untuk naik dan turun di bangunan hebat itu. Tentu saja, rombongan ini kemudian menelurkan ribuan foto sebagai kenangan. Setelah membersihkan diri dan mencuci semua bajuku yang bau keringat ini aku bersiap memanggil ojek online temanku mencari alamat Cokro. Keo, teman sekamarku, peserta asal Laos, sudah aku beritahu tentang ini. Aku akan keluar setiap petang sehabis makan malam.

Alamatku kali ini mengantarkan aku ke sebuah mushola kecil di belakang rimbunan pohon bambu di daerah Prambanan. Meski lebat dan tebal batangnya, aku bisa melihat kerlip lampu musholla di belakangnya. Jamaah keluar dengan pelan, sholat isya telah usai. Beberapa jamaah tak langsung meninggalkan tempat. Mereka duduk melingkar dan mulai mendengarkan suara berat dari imam di tengah bangunan. Aku urungkan kakiku melangkah masuk. Aku mengelilingi mushola ini perlahan. Tenteram dan lega. Kesanku akan tempat ini.

"Ketika empat hal ini diberikan Allah kepada kita, itulah kebahagian yang sebenarnya bahagia. Kalbu yang selalu bersyukur, lisan yang berhati-hati dan selalu berzikir, tubuh yang tangguh dalam cobaan dan pasangan yang sholeh sholehah.. bayangkan bila itu diberikan kepada kita, itulah kebahagiaan dunia dan akhirat.." suara berat lelaki yang menjadi penceramah malam ini menutup tausiyahnya dengan doa bersama. Satu-satu jamaah pamit dan mencium tangan lelaki tua di dalam musholla ini. Aku mendekat. Beberapa perempuan menyapaku dengan sapaan khas Jawa dan senyuman yang manis. Hanya tersisa tiga lelaki di dalam ruangan, merapikan tempat dan mulai menutupi jendela.

"Assalamu'alaikum, " suaraku tertahan. Semua lelaki dalam ruangan itu menoleh dan langsung menjawab. "Nggih mbak, ada yang bisa kami bantu?" Aku mendekati mereka. "Maaf mas, pak, saya mencari Pak Cokro.." Lelaki muda di depanku kemudian menjawab segera, "Owh, pripun Mbak, itu Pak Cokro sedang wudhu, tunggu nggih Mbak.. "

Kakiku serasa gemetar, antara bahagia dan haru. Sekian belas tahun ibuku menunggu, dalam siang malamnya yang panjang, dalam doanya setiap Dhuha, demi sebuah nama, Cokro. Kini aku akan bertemu lelaki itu dan menyampaikan amanat ibuku. Hatiku berdesir dengan degup jantung yang kencang. Apakah benar sosok Cokro seindah deskripsi ibuku. Apakah dia akan mengenali ibuku, apakah dia mau menerima pesan ibuku, yang mungkin bisa jadi kepingan terakhirnya. Rentetan pertanyaan di kepalaku menggantung mendesak ingin dijawab waktu.

Matanya sendu, pipinya putih mulus kemerahan. Rambutnya genap putih melulu. Wajahnya menyisakan ketampanan luar biasa di masa lalu. Tubuhnya masih tegap dengan cahaya mata yang syahdu. Aku rasa aku mulai terbawa suasana. Benar kata ibuku. Tak melenceng sedikit derajat pun dari deskripsi ibuku yang menua dalam penantian demi seorang Cokro.

Aku atur nafasku, akan kusampaikan pada lelaki di depanku ini, ibuku, menantinya menjemput. Ibuku memegang janji hatinya untuk wafat sebagai seorang istri.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Jogja. Selamat datang di Ngayogjakarto. Salam.

14 Mar
Balas

Bersambung nih. Bikin penasaran aja

14 Mar
Balas

Menari kisahnya Mengharu biru.. saya suka

14 Mar
Balas

Jenk, terharu banget. Apa lanjutannya, n buat penasaran saja...tapi, saya setia menunggu lanjutannya nih...

14 Mar
Balas

Bikin baper...ditunggu kelanjutannya

14 Mar
Balas

Nggih Bun.. terimakasih apresiasinya

24 Mar

Jenk, terharu banget. Apa lanjutannya, n buat penasaran saja...tapi, saya setia menunggu lanjutannya nih...

14 Mar
Balas

nggih say..

24 Mar

nggih say..

24 Mar

heii millea jangan membuat ku penasaran, ini berat. serius ini berat. hehehehhe

23 Mar
Balas

Hahahaha.. Dilan saja yang tahu bahwa membuat orang penasaran pada tulisan kita lalu membuat kita menulis sequel ya itu berat Pak. Terimakasih apresiasinya Pak.

24 Mar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali